header

Blog ini akan menampilkan kisah-kisah taubat yang diterima dari pembaca-pembaca melalui email, pengalaman penulis, dan lain-lain. Apa yang diceritakan adalah benar, cuma nama dan tempat dirahasiakan. Jika pembaca lain memiliki kisah-kisah taubat yang menarik, bisa dibagi bersama dengan pembaca lain untuk dijadikan panduan hidup.

Friday, April 30, 2010

PERMAISURI HATIKU



Petang tadi aku menerima panggilan dari kekasihku. Dia ingin beremu denganku di rumahnya sore nanti. Katanya ada sedikit jamuan ringan. Setelah menyiapkan pekerjaan rumah, aku terus bergegas memandu ke arah rumahnya. Namanya Hakim. Orangnya berperakan santri dan bijak mengambil hatiku. Kami bertemu saat menghadiri seminar di ibu kota tahun lalu. Meskipun kami berkasih, kami masih menjaga adab dan tatsusila seorang muslim.

Apabila sampai di hadapan rumahnya, aku membunyikan lonceng. Sejurus pintu pagar terbuka secara automatik.Aku memakirkan keretaku di halaman rumahnya. Setelah memberi salam, aku disuruh masuk olehnya. Keadaan rumah sunyi sepi. Kemana perginya orang tua dan saudaranya? Aku mengambil tempat duduk. Aku lihat dia bersahaja. Dia ke dapur dan kembali dengan menatang 2 cangkir air jus. Dia mempersilakan aku minum. Kemudian, aku menanyakan pada jamuan yang seharusnya diadakan. Dia tersenyum. Kemudian, katanya dia hanya bergurau. Merah padam muka ku menahan geram. Aku cepat-cepat bangkit dan ingin pulang, kemudian dia menahanku. katanya, dia cuma ingin chatting kosong denganku. Dia juga berjanji takkan mengapa-apakan aku. Aku kembali duduk di kerusiku.

Kemudian, dia menunjukkan foto-foto keluarganya. Kami berbicara sambil memindai kembali pertemuan kami. Kemudian, dia berdiri. Dia menyuruh aku berdiri. Aku berdiri. Dia merenungku. Aku menjatuhkan pandangan. Dia bertanya, apakah aku mencintainya? Aku menunduk, kemudian mengangguk kecil.Dia ketawa. Kemudian dia merayuku. Dia ingin aku membuktikan cintaku padanya dengan menyerahkan tubuhku. Aku terkedu. Kemudian sebuah penampar singgah dipipinya. Terlihat dia mengaduh sakit. Kukatakan padanya, sesungguhnya aku cinta padanya, tetapi, cintaku pada Tuhan melebihi segalanya. Aku lebih rela mati dari membuat Kekasihku (Tuhan) murka. Kemudian, aku melangkah pulang. Didalam hatiku, Aku benar-benar bersyukur karena mempertahankan cintaku pada Yang Esa. Biarlah aku kehilangannya.

Setelah hari hal ini terjadi, Hakim menghubungiku. Aku tidak sudi menjawab panggilannya. Kemudian dia mengirim jambangan bunga dan kartu yang tertulis "Ternyata aku tidak silap menilaimu.Kau umpama permata di rimbunan kaca. Aku sekadar mendugamu. Ternyata kaulah Permaisuri hati yang aku cari selama ini. Dengan ini sudikah terima lamaranku untuk memjadikanmu permaisuri hatiku buat selamanya?". Aku menagis sepuas-puasnya. Aku bersyukur kepada Illahi. Kini Hakim telah menjadi suamiku. Semoga kita akan terus mencari Redaha-Nya. Amin


Nukilan Shaha Irnie
Langkawi

No comments:

Post a Comment

Followers

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails